Gangguan kesehatan yang menyerang saat putus cinta

Setiap orang menginginkan yang terbaik dalam hidupnya, termasuk dalam urusan pasangan. Pengaruh pasangan dalam kehidupan sangat penting sekali, karena itulah hampir setiap orang memiliki kriteria tersendiri untuk memilih yang terbaik sebagai pasangan hidupnya. Namun tidak semudah itu, memilih pasangan hidup bukanlah suatu hal yang mudah.

Dalam pencarian itulah kamu akan dihadapkan kepada masalah yang membuat romansa percintaanmu jatuh bangun. Salah satu ujian paling menyedihkan yang harus kamu hadapi adalah, ketika kamu harus berpisah dengannya.Putus cinta memang hal yang paling mengerikan diantara siklus yang lainnya. PDKT, awal hubungan merupakan momen dimana hidupmu penuh warna-warni, kamu akan merasa tidak ada kebahagiaan lain yang mampu menandingi hadirnya di kehidupanmu.

Semakin kesini berlanjut ke tahap yang serius hingga akhirnya mengikat cinta hakiki yang sebenarnya. Sayang, tidak semua pasangan pacaran berakhir harmonis seperti ini. Banyak yang akhirnya memilih jalan untuk berpisah dan memilih jalan hidup masing-masing. Meski telah meyakinkan diri bahwa dia adalah yang terbaik, meski telah penuh perjuangan untuk mempertahankannya, tetap saja kemungkinan buruk mungkin saja terjadi. Kamu tidak akan tahu, entah itu kapan hubungan yang kamu perjuangkan itu akan berakhir juga.

Apa sih yang menjadi faktor penyebab putus cinta?

Bukan tanpa alasan, ketika memilih untuk mengakhiri hubungan, pasti ada sesuatu yang menjadi alasan kuat bagi mereka untuk segera mengakhirinya. Entah itu penghianatan, restu orangtua, kekerasan, sudah tidak nyaman, bosan, atau bahkan keduanya telah dijatuh cintakan yang lain. Ini bukan masalah yang besar, selama belum menginjak di hubungan yang lebihserius, kamu masih berhak untuk memilih dan menggantikan posisinya dengan yang lain.

Namun, tidak semua orang bisa lapang dada ketika menghadapi hal tersebut.Terkadang, fenomena putus cinta menjadi berat bagi salah satu pihak yang menyayangkannya. Yap, respon putus cinta setiap orang itu berbeda-beda.

Ada yang mungkin baik-baik saja, bahkan langsung membuka hati kepada orang lain. Ada juga yang tepukul dan berlarut-larut dalam kesedihannya. Diantara keduanya, tipe orang kedua merupakan tipe yang paling berbahaya dan merugikan. Mengapa masih banyak orang yang baik-baik saja ketika putus cinta? Karena dia tidak benar-benar memiliki rasa itu selama berhubungan. Kamu tidak benar-benar mencintainya, dia terlalu membosankan, atau semua rasa cintamu terkubur oleh kebencian. Dibalik itu semua, orang putus cinta rentan sekali galau, apalagi ketika kehilangan orang yang benar-benar menjadi ekspektasinya di masa depan.

Mengapa korban putus cinta rentan galau?

Terlepas dari apapun penyebabnya, putus cinta merupakan siklus yang paling mengerikan sepanjang perjalanan percintaanmu. Bagaimana tidak, harapan masa depan, menikah, memiliki rumah, memiliki anak, merencakanan semua masa depan bersama harus pupus sudah karena suatu konflik yang berujung perpisahan. Sesak? tentu. Bahkan, tidak jarang banyak korban putus cinta yang berjatuhan karena status barunya itu. Single, sebenarnya status baru ini tidak bergitu menyeramkan. Jika diambil positifinya, ketika kamu single, kamu bisa lebih fokus menata kehidupan kamu terlebih dahulu sebelum memantapkan hati untuk memilih.

Perasaan memang tidak mudah hilang begitu saja, apalagi dia yang sudah berhasil mengambil hatimu dengan baik selama berhubungan. Ketika harus berpisah dengannya, tentu kamu akan merasa kosong, tidak berguna, menyesal, rapuh, sedih, dan berbagai perasaan lain hingga bercampur aduk menjadi beban yang berat. Beban ini tidak hanya mendatangkan pilu di hatimu saja, tetapi mendatangkan penyakit pula yang nantinya merugikan kesehatan tubuhmu.

Gangguan kesehatan apa yang sering menyerang setelah putus cinta?

Ketika galau, siklus hidupmu menjadi berantakan. Makan inget dia, minum inget dia, mau apa-apa inget dia jadi hilang mood. Pola makan berantakan, pola tidur buruk, pikiran terus mengarah padanya. Belum lagi kasus pencobaan bunuh diri yang ramai ini kita dapati. Bahkan, orang patah hati juga mengalami resiko gangguan penyakit yang lebih parah.Terus meratapi kandasnya hubungan percintaan dapat menyebakan tubuh memproduksi adrenalin dan hormon stres. Bila hormon ini berada dalam tubuh dalam waktu yang lama, tentunya akan mempengaruhi kesehatan tubuhmu.

Benarkah putus cinta sebabkan penyakit kronis? Pengaruh hormon adrenalin dan hormon kostisol yang berkepanjangan dapat menyebabkan jantung berdenyut terlalu kuat, irama jantung tidak normal, muncul rasa tidak nyaman di leher dan dada, dan timbul perasaan seperti melayang yang beresiko tinggi terinfeksinya penyakit jantung kronis. 

Jianxin Capsule, mengobati jantung koroner hingga sembuh total Bukan hanya itu saja, efek patah hati juga dapat mempengaruhi tekanan daramu, hal ini pada saat tubuh memproduksi hormon stres seperti epinefrin dan kortisol kecepatan jantung menjadi tidak normal sehingga arteri menjadi lemah. Hal ini dapat menyebabkan munculnya plak di arteri yang memblok aliran darah Anda dan akhirnya menyebabkan serangan jantung dan stroke.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *