Depresi pada anak, kesalahan cara mendidik yang seperti ini!

Pendidikan yang diajarkan orangtua harus lebih di utamakan sebelum pendidikan sekolah, sebab pendidikan orangtua lah yang memberikan anak tersebut karakter yang sebenarnya. Dengan dasar sikap yang baik maka pendidikan sekolahnya pun ikut baik.

Tidak sedikit kan kita lihat banyaknya anak-anak nakal di sekolahan? tidak sedikit juga kan banyak anak yang tidak sopan kepada guru, melakukan tindakan kriminal dan banyak lagi. Sedangkan, anak-anak yang baik hanya bisa dihitung dalam hitungan jari saja.
Jangan dikira mendidik anak itu mudah, buktinya banyak anak-anak dibawah umur yang memiliki kepribadian yang sangat buruk. Misalnya terlibat pencurian, pemerkosaan, penipuan, tawuran, kejahatan, pembununan dan hal negatif lainnya. Mengapa hal ini bisa menimpa anak? Tidak lain karena materi pendidikan karakter yang kurang dari orang tua, anak-anak yang terlibat masalah tersebut tidak memiliki dasar nilai-nilai kebaikan yang seharusnya dimiliki.

Apa akibat dari pendidikan anak yang salah?

Cara mendidik anak yang salah menciptakan kepribadian yang buruk, etika yang tidak baik dan sifat buruk lainnya. Mungkin ada beberapa orang tua yang bertanya-tanya ”kenapa anak saja jadi gini, padahal saya dulu didik dia sebaik mungkin” apakah mungkin karakter tersebut tumbuh begitu saja?

Kesalahan pengasuhan orangtua menjadi penyebab utamanya. Apa yang anda rasa benar belum tentu kebenarannya, hal-hal yang sepele kala mengasuh anak ketika kecil seharusnya lebih diperhatikan. Cara pengasuhan anak yang salah bisa menciptakan karakter buruk terhadap anak tersebut,

anak kecil sangat peka sekali sehingga apa yang dia dengar atau yang sering diajarkan akan terus menerap hingga dia dewasa. Bukan hanya mengacaukan kepribadian anak ketika dewasa saja, cara mendidik anak yang salah bisa mengakibatkan anak depresi yang akut ketika dia masih kecil.

Apa yang membuat anak depresi?

Seperti yang kita tahu, depresi biasanya muncul dan menimpa orang-orang di usia remaja hingga dewasa, dan biasanya dipicu dari permasalah sehari-hari misalnya dalam hal pekerjaan, tugas, perselisihan dan hal lainnya. Lalu apa yang membuat anak depresi di usianya yang masih kecil?

Banyak sekali faktornya, dimulai dari pendidikan yang salah. Misalnya, terlalu keras dalam mendidik anak sehingga anak lelah, ketakutan dan berat beban fikiran, selain itu adanya faktor orangtua, misalnya orangtua yang bercerai, faktor sosial seperti pembulian dan masih banyak lagi.

Depresi pada anak cukup beresiko tinggi sebab anak-anak masih labil dan belum memiliki pemikiran yang matang, jika ini terus berkelanjutan maka resikonya akan sangat fatal sekali. Untuk itu awasi selalu rutinitas anak, usahakan untuk memberinya pendidikan yang baik hingga anak berada pada usia yang matang untuk menjaga dirinya sendiri. Pendidikan anak yang salah juga bisa menciptakan karakter anak yang buruk seperti pemurung, mudah stress dan depresi.

Seperti apa sih pendidikan yang membuat anak depresi?

  • Terlalu mengekang anak untuk bisa. contohnya dalam belajar matematika, ketika anak itu tidak bisa atau kurang memahami jangan terlalu ditekan dengan sikap yang terkesan galak dan memaksa. Hal terebut akan membuat anak semakin frustasi.
  • Memarahi anak ketika salah. Ketika anak salah cara untuk membenarkannya tidak harus selalu dengan dibentak, dimarahi apalagi dipukul, lihat bagian mana yang salah lalu di nasehati. Jangan terlalu lembut juga ini akan membuat anak tidak kapok, tapi dengan tegas dan disiplin.
  • Menghukum anak. Kita sudah sering sekali dengan istilah ”nanti kalo kamu gak naik kelas mamah rendam di kolam panas, dikasih makan anjing, dibikin kripik tipis dan hal lainnya” tekanan seperti ini membuat anak stress dan kehilangan konsentrasi karena selalu terbayang-bayangi hukuman tersebut.
  • Tidak mengizinkan anak bergaul. Menjaga anak dari pergaulan yang salah memang sudah seharusnya ibu lakukan, namun terlalu mengurung anak di dalam rumah juga tidak baik untuk kehidupan anak selanjutnya. Sewaktu-waktu anak butuh sosok teman untuk menemaninya. Berilah ruang untuk anak namun dalam pantauan juga.
  • Membanding-bandingkan anak dengan orang lain. ”lihat tuh anaknya pak jono bisa ranking 1 masa kamu ranking 5 doang malu-maluin” pernyataan ini mungkin bertujuan agar anak bersemangat untuk menaikan rankingnya, namun anak bisa salah pengertian dan menganggap ini adalah hinaan. Ingat, setiap anak memiliki kepribadian masing-masing yang berbeda.

Apakah ini bisa diatasi? jika orangtua lebih peka dari awal hal ini masih bisa diatasi, untuk itu perhatikan sikap anak yang mulai berubah, jika muncul tanda-tanda yang aneh segera dekati anak dan beri dia kenyamanan. Beri dia pertanyaan tentang hal apa yang salah dari sikap anda, bagaimana keinginannya, beri anak ruang untuk menyatakan pendapatnya. Jangan selalu menganggap anak itu kendali kita, tapi anggaplah dia sahabat kecil anda. Dengan begitu hubungan antara orangtua dan anak bukan hanya sekedar hubungan keluarga yang basi dan formal tetapi memiliki warna tersendiri.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *