Hipokondria, Gangguan mental yang beresiko kematian

Apa yang kamu rasakan ketika mendengar kabar yang membahagiakan? Senang bukan? Tentu saja. Bahkan terkadang kesenangan itu dibuat berlebihan. Misalnya, jingkrak-jingkrak di tengah jalan. Apa ini suatu hal yang menggelikan? Tidak juga. Setiap orang memiliki hak untuk mengekpresikan dirinya, entah dalam keadaan bahagia, senang, galau, meriang, panas, dingin, sakit hati, benci, dendam, bete, dan kondisi lainnya. Selain memiliki hak yang mutlak untuk mengatur dirinya,  setiap orang juga memiliki respon yang berbeda-beda ketika menghadapinya.

Mengapa setiap orang memiliki respon yang berbeda? Ini lebih ke naluri saja sih, bukannya ketika kita menjerit ketakutan, kita tidak merencanakannya bukan? Ini menjadi pembeda karakter yang dimiliki setiap orang. Ketika senang, tentu hati kita akan senang, namun respon yang terjadi bisa saja berbeda-beda. Misal ada yang merayakan kesenangannya dengan hura-hura, membagikan hadiah, sujud syukur, atau bahkan ada yang cukup nyengir saja.

Ketika marah, takut, cemas, bingung, gundah, sedih, setiap orang memiliki taraf pengendalian diri yang berbeda-beda, ini tidak akan menjadi masalah yang besar selama anda bisa mengatasinya. Namun akan menjadi berbahaya ketika respon yang terjadi terkesan berlebihan, apalagi ketika dihadapkan pada fakta-fakta menyedihkan seperti memiliki sejumlah faktor risiko penyakit.

Apa respon yang sering terjadi ketika seseorang dihadapkan pada suatu penyakit tertentu?

Sedih. Kenapa tidak? setiap orang pasti merasakan hal ini. Sedih adalah refleks umum yang pasti terjadi. Hanya saja, menjadi tidak wajar jika respon sedih yang terjadi terkesan berlebihan. Misalnya sedih yang berlebihan dengan menangis setiap malam, mengurung diri, menyalahkan diri sendiri, membayangkan kemungkinan buruk yang belum pasti dan muncul rasa cemas yang berlebihan.

Gejala seperti itulah yang dibilang tidak wajar. Ketika di vonis sakit, kamu pasti akan merasa sedih, malah terlihat aneh jika kamu malah tertawa bahagia. Namun, bukan berarti kamu harus larut dalam kesedihan tersebut lebih lama lagi. Mengekspesikan diri boleh saja, tapi jika sekiranya itu hanya akan memberi beban padamu lebih banyak lagi, maka hindari perasaan was-was yang terlalu berlebihan itu. Secara logisnya ”siapa yang ingin sakit?” atau ”siapa yang ingin memiliki penyakit mematikan?” Tentu tidak ada. 

Hampir 100% manusia normal menginginkan hidup yang sehat dan langgeng. Ketika ter vonis penyakit, mengapa tidak berusaha sekuat mungkin untuk menyembuhkan? Terpuruk dalam keadaan justru membuat penyakit semakin parah. Sebab yang membunuh sebenarnya bukan penyakit tersebut, respon ketika kita menghadapinya. Dalam ilmu kedokteran, rasa cemas yang berlebihan ini disebut hipokondria.

Apa itu hipokondria?

adalah penyakit mental kronis di mana seseorang takut terdiagnosis mengalami penyakit serius yang mengancam jiwa. Keadaan murung dianggap sebagai gangguan psikosomatik, yang berarti itu gangguan psikologis dengan gejala fisik. Sementara itu, dikutip dari Boldsky dan Mayo Clinic, hipokondria merupakan gangguan kesehatan mental dan termasuk salah satu jenis dari gangguan kecemasan. Hipokondria juga dikenal dengan gangguan kecemasan terhadap penyakit. Meski berbeda penjelasan arti, namun keduanya mengarah pada kesimpulan yang sama. Seperti apa sih hipokondria itu? Berikut ciri-ciri hipokondria yang harus anda awasi.

Ciri-ciri gangguan hipokondria

  • Terlalu sering mencari info penyakit. Mengenali gejala lebih dini memang lebih baik, namun berlebihan pada gejala yang sepele pun dianggap terlalu drama queen. Misalnya muncul bentol di jidat, langsung mencari-cari info di internet, buku, atau lewat sumbernya langsung tentang gejala yang tidak seberapa itu. Ini membuatmu di cap sebagai penderita hipondria.
  • Sering mengandai-andai. 3 hari sakit kepala berlebihan membuatmu berfikir ”apa mungkin ini kanker otak” langsung panik, buat wasiat, nangis, minta putus. Ada baiknya langsung konfirmasi ke dokter langsung, mungkin saja 3 hari pusing kepala karena efek kurang gizi atau kurang kasih sayang.
  • Merasa memiliki penyakit yang parah padahal dokter menyatakan sehat. Yang kondisi yang lebih parah, sudah jelas dinyatakan sehat masih tetap saja ngenyel beranggapan hal yang buruk. Selalu mengaitkan gejala dengan berbagai kemungkinan penyakit parah membuatmu selalu berfikir negatif. Jangan terlalu drama queen, apalagi jika sudah jelas kata dokter tidak apa-apa. Berfikir positif saja.
  • Selektif dalam bergaul. Selektif disini bukan dilihat dari kayanya, atau dari tampangnya. Tapi, dari riwayat kesehatan yang dimiliki orang lain. Orang dengan hipokondria akan mencari info kesehatan yang dimiliki temannya atau orang-orang terdekatnya termasuk keluarga, lalu menjaga jarak dengan orang tersebut karena memiliki kecemasan takut tertular.
  • Rutin memeriksakan diri ke dokter. Semboyan ”mencegah lebih baik daripada mengobati” menjadi buruk ketika di salah artikan. Ini bermaksud agar kita menjaga diri dari berbagai ancaman penyakit, menghindari segala kemungkinan buruk. Bukannya setiap hari periksa diri ke dokter.

Apakah hipokondria mematikan?

Bahaya atau tidaknya suatu penyakit kembali lagi disandarkan pada penderitanya, jika penderita mampu sabar dalam menjalani hidup sebesar apapun resiko yang terjadi, maka penderita bisa keluar dari gangguan penyakit tersebut. Ini lebih kepada sikap yang ditunjukan si penderita.

Lalu bagaimana mereka yang memiliki kelainan hipokondria?Bagi mereka yang mengidap hipokondria, meskipun tidak ada gangguan organ khusus yang di serang, namun sugesti pemikiran yang terlalu was-was dan hati-hati akan memicu datangnya penyakit yang parah. Ketika stres, apapun bisa terjadi termasuk kematian.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *