Sindrom hipertrikosis, kelainan paling mengerikan di dunia

Sudah pernah nonton film twilight? Bagian paling unik dari film tersebut adalah percintaan antara manusia dan vampir yang saling memperjuangkan cintanya meskipun keduanya memiliki perbedaan. Tidak kalah, indonesia pun memiliki laga film yang hampir sama yakni lutung kasarung.Pernah melihat cerita ini? Hampir sama dengan twilight, hanya saja di film lutung kasarung pemeran pria bukan seorang vampir tetapi seorang manusia berwujud monyet.

Kita mungkin sempat berfikir bahwa manusia monyet hanya ada di film saja. Padahal kita bisa benar-benar menemukannya di dunia nyata lho. Benarkah? Yap, dalam ilmu kedokteran sendiri kelainan ini sudah ada dan disebut dengan istilah hipertrikosis sindrom. Benarkah manusia bisa berwujud seperti monyet? Yap, hanya saja penderita hipertrikosis tidak memiliki buntut atau postur tubuh yang sedikit membungkuk layaknya monyet pada umumnya.

Yang menjadi persamaannya dari keduanya adalah memiliki bulu-bulu yang tumbuh di sekitar tubuh. Meski tidak seluruh bagian tubuh tertutupi oleh bulu, penderita hipertrikosis benar-benar terlihat layaknya pemeran utama di film ”lutung kasarung”.

Mengapa kelainan ini bisa menimpa manusia?

Apakah revolusi darwin benar-benar nyata? Simak penjelasannya.

Ketika duduk di bangku sekolah dasar beberapa periode tahun ajaran mungkin pernah mengalami materi tentang ”evolusi darwin” meski sekarang materi ini telah dihilangkan, tetapi pengamatan teori ini masih dilakukan hingga sekarang, bahkan beberapa diantaranya percaya dan meng-IYA kan materi tersebut. Lalu apa hubungannya teori evolusi darwin dan sindrom hipertrikosis?

Seperti yang kita tahu, teori evolusi darwin menyimpulkan bahwa manusia berasal dari kera (monyet) yang seiring berkembangnya waktu mengalami reformasi (perubahan kehidupan baru) menjadi manusia yang sempurna.Adanya hipertrikosis semakin mendukung kebenaran teori evolusi tersebut. Pasalnya, hipertrikosis merupakan wujud dari manusia yang masih terbawa gen nenek moyangnya dulu (memiliki bulu seperti kera).

Apakah pernyataan ini bisa diterima? Tidak.Jika teori tersebut benar, maka tidak akan ada wujud manusia kera di zaman sekarang ini. Bukankah manusia sudah mengalami reformasi? Lalu kenapa bisa ada manusia di serpihan masa lalu yang datang di jaman sekarang? Perlu kita ketahui bahwa kelainan langka ini telah ada dalam istilah kedokteran dan sama sekali tidak berhubungan dengan berbagai mitos yang beredar.

Mengenal sindrom hipertrikosis

Hypertrichosis merupakan kondisi dimana seseorang mengalami pertumbuhan bulu yang tidak wajar di seluruh anggota tubuh atau sebagian, kelainan ini biasa disebut juga dengan istilah sindrom werewolf karena mirip seperti wajah wolverine.

Apa penyebab kelainan ini? Hingga kini medis masih belum bisa mengungkapkan penyebab utama terjadinya kelainan ini, Meski demikian banyak penelitian yang menyatakan beberapa pendapat tentang penyebab munculnya kelainan hipertrikosis.Yang jelas penyebabnya bukan karena hal-hal berbau mistis seperti yang anda lihat di tv, misalnya kutukan dewa laut.

Sama sekali tidak, salah satu penelitian menyebutkan bahwa penderita hipertrikosis berasal dari kelainan mutasi yang biasanya diturunkan oleh orangtuanya, atau yang biasa disebut dengan istilah kromosom 8Q atau mutasi genetik spontan. Tapi tidak sedikit juga yang beranggapan bahwa kelainan ini bisa dipicu oleh obat-obatan atau gangguan metabolisme.

Meski medis belum menyatakan secara pasti mengenai penyebab hipertrikosis, namun pada intinya bisa kita simpulkan bahwa penyebab umum hipertrikosis yang paling masuk logika adalah faktor keturunan. Sifat-sifat yang dimiliki orang tua akan menurun kepada anaknya, bukan hanya masalah fisik saja, tetapi kelainan yang diidap pula. Bagaimana jika orang tua tidak memiliki kelainan apapun tetapi anak yang dilahirkan mengalami kelainan?

Ketika anak cacad (memiliki kelainan), yang dilihat tidak harus selalu dari kedua orangtuanya saja, bisa saja sifat yang diturunkan berasal dari tanteu, paman, nenek atau keturunan sebelumnya dalam silsilah keluarga. Contoh : Ibu memiliki riwayat kelainan hipertrikosis, ayah tidak. Kelahiran anak pertama atau kedua mungkin saja normal, namun kelahiran berikutnya pasti akan mengidap hipertrikosis sebanyak peluang 50%.

Atau misalnya ibu dan ayah sama-sama normal, tetapi memiliki riwayat hipertrikosis dalam silsilah keluarganya (anggota keluarganya mengalami). Nah bisa saja anak yang dilahirkan akan mengalami kelainan tersebut sebanyak peluang 25%. Faktor pola hidup ketika hamil juga sangat berpengaruh pada kelahiran anak kelak, karena itulah perhatikan pula pola hidup ibu hamil untuk mengantisipasinya

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *